• 8 December 2019
0 Comments

Dalam lembaga dakwah, telah menjadi pandangan umum jika orang-orang yang bergelut di dalamnya sibuk dengan agenda-agenda keagamaan. Mulai dari taklim, kajian Islam, Tarbiyah, Tabligh Akbar, Rihlah, Mabit, buka puasa, sampai musyawarah dan aktivitas lainnya. Kita semua selalu menegaskan bahwa agenda-agenda tersebut merupakan agenda-agenda kebaikan. Na’am, namun tidak sepenuhnya. Tanpa sadar ada gerakan syaiton dan berlebih-lebihan yang sedang kita lakukan. Salah satunya membantu proses peningkatan sampah terhadap bumi Allah tercinta.

Mengapa bisa seperti itu? Apa yang telah kami lakukan? Pertanyaan itu kita jawab dengan pertanyaan pula sebagai berikut: Ada berapa dos air gelas yang kita konsumsi? Ada berapa ratus bahkan ribuan botol minuman yang dikonsumsi? Ada berapa banyak kemasan plastik yang digunakan untuk mengemas makanan? Ada berapa jilid kotak makanan yang kita lipat-lipat dan gunakan? Ada berapa banyak sampah yang kita hasilkan dalam 1, 2, 3, sampai 4 tahun selama menjadi penggiat dakwah yang senantiasa berkegiatan? Tentu jawabannya sangat tidak sederhana.

Sebagai pelaku dakwah yang tentunya dikaruniai kecerdasan yang mumpuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, tentu kita harus tahu bahwa sampah plastik dari air kemasan, air botol, dan kemasan makanan itu merupakan jenis sampah ynag paling sulit diurai oleh tanah bumi tercinta. Butuh waktu ratusan tahun untuk mengubahnya menjadi partikel yang lebih kecil. Itupun masih berpotensi bahaya dan gas toksik. Kemudian dos-dos makanan yang senantiasa kita pakai untuk acara-acara besar, misalnya Pesantren Kilat dan Akademisi, PMB dan Silmaba, Daurah dan pelatihan-pelatihan lainnya, beserta Pleno dan Muktamar. Adakah di antara kita yang bisa menjamin bahwa sampah Muktamar kemarin sudah diurai oleh bumi? Adakah yang bisa menghitung berapa banyak pohon yang ditebang untuk membuat kotak makanan? Akhirnya bumi penuh sampah dan kekurangan oksigen.

Memang bukan hanya kita yang menjadi penyumbang sampah-sampah itu. Akan tetapi bermudah-mudahan dalam hal ini merupakan perbuatan yang melampaui batas. Allah menyukai keterjagaan bumi-Nya. Allah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allah semata dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena merusak alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

Allah SWT berfirman;

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۗ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

“Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Ali Imran : 108)

Allah menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribadah hanya kepada Allah semata. Kembali Allah berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 191)

Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam jihâad fi sabilillah. Kaum muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas.

Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia dan inilah faktanya. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Dan kita semua adalah manusia. Seyogyanya kita bisa menjadi role model yang ideal bagi umat dan insan awam di luar sana. Tentu kita tidak menginginkan berada dalam barisan umat yang mengambil sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Berbangga hati dengan agenda-agenda kebaikannya, lantas di dalamnya ada proses pengrusakan bumi Allah yang tidak disadari. Naudzubillah Mindzaliiq.

Wallahu A’lam.

Penulis: Achmad Ridwan Palili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *