• 9 December 2019
Sumber gambar: pexels.com
1 Comments

Bismillahirrahmanirrahim,

Saudaraku, Ramadhan bukan hanya sekadar menahan diri dari ganasnya lapar dan haus secara zahir maupun batin. Ramadhan bukan hanya sekadar menyuguhkan menu untuk berbuka puasa. Ramadhan bukan hanya sekadar momen untuk mencari diskon belanjaan.

Perlu kalian ketahui, saudaraku. Ramadhan adalah wadah untuk melakukan kebajikan terbaik kita. Berlomba-lomba melakukan kebajikan adalah bentuk dari ketakwaan dan keimanan bagi seorang Muslim, sekalipun mereka dihadang oleh pedihnya duri-duri yang menancap di dalam hati, menusuk ke dalam jiwa, hingga membelenggu nafsu dan syahwat. Adalah Muslim yang terbaik bila engkau mampu untuk menahannya. Selain itu, Ramadhan adalah bulan yang memberikan kita kesempatan untuk meraup pahala yang berlipat ganda.

Betapa banyak kerinduan yang menyelimuti Ramadhan, tatkala kita berada di penghujung kerinduan dengannya. Inilah saatnya untuk mengakhiri pertemuan ini. Semoga ini adalah pertemuan yang terbaik sepanjang hidup.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab “Ighaatsatul Lahafaan” membuat kita sadar bahwa kenikmatan yang sempurna bukan hanya sekadar makan minum di surga saja, tetapi juga nikmat bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bilamana ini adalah momen terakhir kita mendekap Ramadhan, maka pasti kita akan menjalankan segala perintah dengan sungguh-sungguh, tanpa iming-iming dunia yang tatkala mencekik leher kita.

Bilamana engkau mengetahui bahwa dekapanmu bersama Ramadhan akan berakhir hari ini dan tidak akan bertemu lagi dengannya, maka engkau akan senantiasa menjaga amalan-amalan kita. Namun, bagi yang tidak sadar akan hal itu, niscaya puasa yang diperolehnya hanyalah lapar dan dahaga belaka.

Jadi, bermuhasabahlah setiap waktu agar segala amalan yang diperoleh dapat bernilai di mata Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari).

Bilamana kita mengetahui bahwa hari ini adalah pertemuanmu dengan Ramadhan akan berakhir hari ini, niscaya kita selalu melaksanakan tarawih di masjid setiap malam, serta membaca dan mentadabburi isi Al-Qur’an. Jikalau hari ini kita tahu bahwa jasad ini tidak akan lagi bertemu dengan Ramadhan, niscaya kita tidak akan melewatkan setiap amal saleh di bulan Ramadhan, kewajiban-kewajiban maupun sunnah-sunnahnya.

Tahukah engkau saudaraku, waktu adalah kesungguhan. Berikan makna di setiap waktumu. Karena kita tidak mengetahui pasti bilamana ajal kan menjemput. Waktu kita terbatas, saudaraku. Mari dekap Ramadhan ini dengan dekapan yang sungguh-sungguh. Jangan lepaskan dekapan itu, kecuali bilamana jasad ini sudah tak bernyawa lagi.

Ketahuilah wahai saudaraku, apabila kita masih saja melakukan kemaksiatan padahal ini adalah Ramadhan terakhir kita, sungguh itu sangatlah rugi. Oleh itu, tanamkan tekad dalam diri dan katakanlah, “Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku untukmu, Ramadhan.” Berikan yang terbaik, karena Ramadhan ibarat tamu yang datang dan pergi.

Wallahua’lam.

One thought on “Ramadhan, Apakah Nanti Kita Masih Bisa Bertemu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *